Estetika Empirisisme
Pertama kali dalam estetika, imajinasi dan selera memiliki posisi sendiri-sendiri. Keindahan sendiri dapat memikat kita bukan hanya dari sesuatu yang indah-indah saja.
Empirisisme adalah sistem filosofis pertama, sama seperti rasionalisme yang terfokus pada Epistemologi (teori tentang pengetahuan).
Menurut empirisisme sendiri, sumber pengetahuan adalah pengalaman inderawi kita dan bukan benak atau akal-budi kita.
Tokoh-Tokoh penting dalam filsafat Inggris :
1. Shaftesbury (1671-1713) - Anthony Ashley Cooper
Shaftesbury adalah murid dari John Locke. Kontribusi terbesar Shaftesbury bagi estetika sendiri adalah konsep tentang "ketanpa pamrihan" (disintersetedness). Artinya, agar sebuah tindakan meiliki nilai moral bukan hanya memiliki akibat baik saja, orang yang melakukan tindakan tersebut haruslah tidak egois. Jadi harus mementingkan kepentingan nasional bukan pribadi.
Empirisisme menurut Shaftesbury adalah keindahan itu berharga karena dapat menimbulkan "rasa nikmat (pleasure)".
2. Francis Hutcheson (1694-1746)
Hutcheson adalah tokoh dari "Pencerahan Skotlandia" yang menulis tentang estetika dan moral. Kontribusi terbesar Hutcheson untuk estetika adalah konsep-konsep tentang "indera internal" (dari diri kita sendiri) dan "uniformitty in variety".
Ada 3 kategori utama dari "nikmat" :
1. Fisik (seperti kalau kita makan sesuatu dan terasa enak ketika di dalam mulut)
2. Mental (seperti kita memikirkan sesuatu dan menurut kita itu indah)
3. Beauty (sifatnya tidak sepenuhnya fisik dan tidak sepenuhnya mental. Beauty adalah julukan yang diberikan kepada "ide" yang muncul dalam diri kita dan kemampuan kita untuk menerima "ide" ini.)
3. Edmund Burke (1728-1797)
Kontribusi terbesar Burke untuk estetika adalah konsep tentang "yang Sublim dan yang Indah". Menurutnya "yang Sublim" ini adalah sesuatu yang bertentangan dari keindahan."yang Sublim" adalah apa saja yang dapat menimbulkan rasa senang. Contohnya ilustrasi karya William Blake yang mengancam serta menakutkan, tetapi jika kita bisa merenungkan karya William Blake tanpa rasa takut maka ilustrasi-ilustrasi tersebut akan dialami sebagai "yang Sublim".
4. David Hume (1711-1776)
Hume dipengaruhi oleh pemikiran John Locke. Ia dianggap sebagai filsuf empirisisme terpenting. Kontribusinya terhadap estetika adalah :
- Penjelasan bahwa pengetahuan datang dari pengalaman inderawi. Teori tentang Prinsip-Prinsip Asosiasi.
- Teori tentang Standard Selera (Standards of taste).
Kita tahu bahwa jurang itu dalam dan jika jatuh ke jurang akan sakit meskipun kita tidak pernah jatuh ke dalam jurang. Hal tersebut merupakan prinsip-prinsip asosiasi, isi pikiran manusia tergantung dari aktivitas inderawi. Asosiasi terbagi menjadi 3 prinsip :
1. kemiripan : hal yang berbeda tetapi mirip seperti lukisan pemandangan alam.
2. kedekatan-hubungan : misalkan kita memikirkan rumah otomatis kita akan membayangkan jendela, pintu, dll.
3. sebab-akibat : jika kita memikirkan luka otomatis kita akan membayangkan rasa sakit yang ditimbulkannya.
Standard Selera / Selera Baik
- Kehalusan (delicacy) : peka terhadap pesan-pesan tersembunyi.
- Pikiran sehat (good sense)
- Terlatih (practiced) : semakin sering melihat art otomatis kita jadi lebih terlatih.
- Punya perbandingan (comparison) : mana yang bagus, biasa saja, jelek, bagus banget, jelek banget.
- Bebas dari prasangka (unprejudiced)
Pada akhirnya Hume menyatakan bahwa Ia menerima adanya variasi-variasi 'cita-rasa' karena faktor usia dan temperamen. Dalam hal ini, tidak ada ukuran 'cita-rasa' yang dapat menentukan sesuatu lebih baik daripada yang lainnya.
No comments:
Post a Comment