06 October 2013

Estetika Masa Renaisans

Estetika pada Masa Renaisans adalah kelahiran kembali ajaran-ajaran klasik atau budaya Yunani Kuno. Pada masa ini manusia bukan lagi sebagai hamba Tuhan melainkan manusia sebagai manusia itu sendiri. Penyebarluasan ajaran klasik di masa Renaisans dimulai dari munculnya mesin cetak sehingga mempermudah dalam memperbanyak buku dan cat minyak yang mempermudah membuat lukisan dan menjadi lebih praktis.
Selain itu, mesin cetak berarti pengetahuan tidak lagi hanya milik gereja atau bangsawan melainkan terbuka bagi semua orang. Zaman renaisans bukanlah masa dimana muncul sistem-sistem pemikiran filosofis yang besar, melainkan merupakan masa di mana metode ilmu pengetahuan alam modern ditemukan dan dikembangkan.

Tokoh-tokoh di masa renaisans :

1. Francesco Petrarca (1304-1374), seorang sastrawan Italia yang mempelajari sastra klasik Yunani-Romawi. Ia mengkritik pendidikan Skolastik (fokus pada Tuhan bukan "manusia" ). Menurutnya sejarah itu terbagi menjadi dua bagian, yaitu : Golden Age dan Dark Age.
Golden Age adalah masa keemasan sedangkan Dark Age sendiri berada di abad pertengahan dimana orang-orangnya lupa pada ajaran-ajaran klasik dan percaya pada hal-hal gaib dan takhayul. Petrarca berupaya dan menginginkan jamannya pada saat itu kembali lagi seperti pada zaman golden age.

2. Marsilio Ficino (1433-1499) adalah seorang Tokoh Humanisme Renaisans.
Pada era klasik terdapat Liberal Arts yang merupakan akademi khusus untuk orang-orang bangsawan atau kaya guna mempelajari tentang tata bahasa, filsafat, sejarah, aritmatika yang akhirnya diubah oleh Ficino menjadi Studia Humanitatis, dimana semua orang termasuk kalangan bawah (budak) diperbolehkan untuk bersama-sama mempelajari hal-hal tersebut.

Ficino adalah pembangkit neoplatonisme pada zaman ini dan merupakan salah satu penterjemah pertama tulisan-tulisan Plato.

3. Leon Battista Alberti (1404-1472) adalah seorang penulis, arsitek, pendeta, penyair linguis. Battista mengenal estetika Yunani Kuno dari tulisan-tulisan Vitruvius dan Plinius. Karyanya yang berjudul "On Painting" menjelaskan tentang sistem perspektif linear berdasarkan pada satu titik dan kemungkinan untuk menggambarkan kedalaman ruang serta kepadatan melalui komposisi geometris dan saran lainnya.

4. Leonardo da Vinci (1452-1519) adalah seorang seniman dan ahli ilmu alam. Da Vinci mengembangkan teori perspektif (linear, warna, kabur, udara), chiarascurro (gradasi/gelap terang) dan teknik sfumato (berkabut). Ketiga teknik itu mendukung gaya seni realis.

Karyanya "The Last Supper" (1495-98) mengandalkan geometri dan keseimbangan. Ada pengelompokkan tiga-tiga dan tangan murid-murid Yesus digambarkan mengarah ke arah Yesus.


Karya lainnya "Vitruvian Man" terinspirasi dari karya Vitruvius "On Architecture" yang menjelaskan bahwa mamusia digambarkan secara "ideal", ideal yang dimaksud disini adalah ideal menurut orang-orang zaman klasik.
Menurut Da Vinci, seni adalah science. Seni berfungsi untuk menjelaskan si manusia itu sendiri. Ada perhitungan yang jelas dalam karya Vitruvian Man ini.


Karya terkenal lainnya adalah Monalisa.


Karya ini menggunakan teknik sfumato dan chiarascurro. Bagian bawah dibuat gelap sedangkan bagian wajah yang ingin difokuskan dibuat terang. Efek sfumato sangat terlihat di karya ini. Background dibuat berkabut. Dan goresan-goresan Da Vinci dibuat sangat halus dan tipis sehingga menghasilkan karya yang sangat lembut.

Manusia menjadi tolak ukur praktek dan pemikiran tentang kesenian di zaman Renaisans yang berarti Anthroposentrisme dalam seni. Berkat teori Da Vinci, seni dianggap sebagai ekspresi seniman bukan hanya skill atau teknis saja.



No comments:

Post a Comment