18 December 2013

Estetika Masa Romantik

2 Tokoh dalam artikel kali ini adalah Schopenhauer dan Nietzsche. Mereka berdua menentang estetika yang selama ini selalu berdasarkan akal, logika, nalar yang sudah jadi scientific. Mereka lebih mementingkan rasa, emosi, kehendak/will.

Pada zaman ini ada anggapan baru tentang seniman. Artistic Genius dimana seniman lebih out of the box.


Arthur Schopenhauer (1788-1860) merevisi pendapat Hegel. Menurutnya yang salah dari Hegel adalah bahwa kita bukan dibentuk dari roh/semangat jaman melainkan dari will to live (kehendak atau hasrat untuk hidup).

Kehendak untuk hidup adalah naluri dasar manusia bukan akal, bukan juga logika.

Kehendak atau will berisi tentang Noumenal vs Fenomenal. Noumenal sifatnya transendental, melebihi dari yang melampaui di dunia ini, abstrak, ambigu, spiritual dan tidak berbentuk tetapi memiliki kekuatannya sendiri yang dapat kita rasakan impactnya).
Sedangkan fenomenal itu sifatnya duniawi, ingin ini itu. Dunia sebagai kehendak dan representasi.

Manusia itu diperbudak oleh hasratnya. Oleh karena itu, kita harus menaklukkan/meredam hasrat tersebut. Untuk menaklukkannya ada solusi-solusi temporer yaitu puasa, semedi, dll. Seni murni merupakan salah satu dari solusi temporer. Seni murni juga adalah wujud dari kehendak transendental.

Seniman itu dianggap jenius seperti yang diawal tadi disebutkan Artistic Genius. Dijuluki seperti itu karena mampu merangkum realita dan kejadian-kejadian pada jamannya. Seniman itu memperhatikan, berimajinasi, mewujudkan sebuah objek yang dinamakan karya seni yang merupakan wujud kehendak transendental (noumenal).

Seni Murni sendiri ditingkat-tingkatin sama Schopenhauer :
1. Musik
2. Puisi
(Menurutnya Musik dan puisi lebih universal)
3. Lukisan besejarah dan patung
4. Desain Taman / landscape
5. arsitektur

Seni itu membuat manusia memahami dunia dan mengedepankan rasionalitas.

Friedrich Nietzsche mengkritisi pola pikir manusia yang scientific seakan-akan tidak ada lagi pola untuk Tuhan/spiritual.
Menurut Nietzsche kehendak itu harus dituruti karena kehendak itulah kunci dari kreatifitas.
Naluri dasar manusia itu will to power (kehendak untuk berkuasa), maksudnya berkuasa atas diri kita sendiri bukan atas orang lain.

Kita sebagai manusia itu diperbudak oleh morality/peraturan/norma-norma/tradisi bukan diperbudak oleh kehendak.
Seni itu sangat penting karena membuka potensi-potensi kreatif manusia hingga utuh. Dalam berseni ada 2 aspek, Apolonian (kejelasan) : seni memberikan kejelasan agar orang yang melihatnya mengerti dan Dionisian (kemabukkan) yang membawa kita keluar dari batas wajar jadi kita berkhayal, berimajinasi.

Senilah yang memberikan makna ke kehidupan. Jika belum ada seni, dunia ini belum sempurna. Jadi seni adalah pelengkap dunia dan mengedepankan kreatifitas.


No comments:

Post a Comment